Memori Berkesan di Kota Solo | Blog Pribadi

Pages

Kamis, 07 November 2013

Memori Berkesan di Kota Solo


Tak terasa, sudah setahun lebih, saya meninggalkan tempat kelahiran tercinta. Walaupun secara badaniah menetap di luar provinsi, namun beberapa keping jiwa saya telah tertambat di Kota Bengawan, mungkin juga terselip di antara buku-buku usang Mburi Sriwedari. Bagaimana tidak? 14 tahun lebih saya hidup dan menempuh pendidikan di sana, tahun-tahun yang penuh dengan tawa, air mata, juga kekaguman.
    Saya akan memulai pengalaman berkesan di Solo saat menjadi murid Taman Kanak-Kanak. Dulu sebagai anak kecil, saya selalu menanti-nanti datangnya Malam 1 Suro (pasti sebagian orang menganggap saya horor, eitts tunggu dulu...). Menjelang pergantian tahun kalender Jawa, di kampung saya, Mertodranan, selalu diadakan lek-lekan (kalau bahasa dangdutnya itu ‘begadang’). Para Ibu akan bergotong royong memasak buat para pejuang ‘melek’, ada yang menyeduh teh, membuat sepanci jenang, dan sebagai lauknya ada sambel goreng tahu, gudeg loto, dan telur bacem (hmm, nyam..nyamm). Banyak juga lo, anak kecil yang masih berkeliaran, biasanya mereka bermain petak umpet, yang kadang membuat jengkel emaknya, karena berlarian di sekitar kayu bakar yang menyala.
    Sesaat kemudian, beberapa orang dikalahkan oleh rasa kantuknya (mungkin kebanyakan makan nih!), sehingga di puncak acara, mereka tidak bisa menyaksikan Kirab Kebo (dulu saya menyebutnya begitu). Sebelumnya, saya menyelipkan beberapa snack di saku celana (lumayan lah buat ngemil di jalan :D ), lalu berangkat sama nenek menuju Jalan Kapten Mulyadi 219, yang di depan SD Sampangan 26 (sangat dekat dari rumah, asyik kan?). Ternyata, di sisi-sisi jalan sudah ramai oleh warga yang antusias, walaupun harus menunggu. Saat barisan kirab mulai tampak, saya berjingkrak-jingkrak, tiba-tiba sus kering dalam kantong terjatuh. Ah, ambil aja deh, belum lima menit. Saya kaget sekali. Badala sendalku! Saya akui bahwa harganya 10-ribuan, tapi bukan itu alasannya. Tidak disangka, main pakai saja, jadi terambil yang warna merah. Untuk informasi, waktu jaman saya, mitos “jangan mengenakan warna merah saat melihat Kirab 1 Suro” masih sering diceritakan para orang tua. Saya yang memang takut disruduk Kyai Slamet, langsung ngacir di belakang nenek (uuhh padahal tadi sudah nyaman di depan...)
Konon, pada malam 1 Suro, kebo ini akan berjalan sendiri dari kandangnya menuju halaman Keraton

    Ya sudahlah, toh masih keliatan dari sini. Kirab diawali dengan cucuk lampahnya, yaitu Kebo Kyai Slamet, sebagian masyarakat percaya bahwa jejak langkahan kaki dan bahkan (maaf) kotorannya dapat membawa keberkahan bagi yang menyentuh. Terlepas dari kepercayaan itu, kebo ini memang berbeda, karena mempunyai sedikit pigmen, sehingga kulitnya tampak putih-semu coklat dan agak menjurus ke merah muda (albino). Maklum saja, bagi yang sering sobo di sawah pasti membandingkan warna kulit kebonya yang item, kontras dengan yang satu ini (hehe). Rombongan kedua, ada abdi dalem, yang bertindak sebagai pawang, lalu sentana dalem, ada juga warga yang mengikuti untuk melihat jalannya acara secara keseluruhan. Jujur saya belum merasakan kekhidmatan acara yang berlangsung di Keraton, karena esoknya, saya harus bangun pagi, lalu sekolah.
    Pengalaman kedua ini, terjadi saat saya sudah resmi memakai seragam merah putih. Tahun 2006, saya beserta kakak kelas ditunjuk mengikuti lomba membatik di Balai Kota Surakarta, kegiatan ini direncanakan akan memecahkan rekor MURI, dengan peserta 1000 anak dari jenjang TK-SD. Saya merasa antusias dengan apapun yang berhubungan dengan menggambar, saking gembiranya, saya bahkan baru sadar pertama kalinya jemari ini akan menggambar dengan canthing. Sempat dibuat kesal, karena canthing tersumbat, alhasil saya tidak berhati-hati saat meniupnya, maka beberapa tetes malam jatuh di permukaan kaos kaki. Asli, panas banget :(. Di tengah semangat pantang menyerah untuk menyelesaikan hiasan di kanvas, tiba-tiba ada seorang wartawan yang meminta ijin mengambil foto close up kami saat memonyongkan bibir di depan canthing (lumayan, mejeng di koran hehehe). Walaupun tidak memperoleh juara, tapi saya cukup bangga bisa berpartisipasi dalam taraf nasional semacam itu. Ditambah pulangnya, saya dibonceng kakek mampir dulu untuk berburu buku jadul di depan alun-alun utara. Kumpulan kios ini memang kalah tenar dengan kawasan belakang Sriwedari, tapi saya jamin deh, nggak kalah nyaman, karena di sini banyak tumbuh pohon-pohon besar yang membuat sejuk, dan meningkatkan  kenyamanan  kita dalam memilih buku, majalah, naskah kuno, maupun komik. Di samping itu pintar-pintarlah bernegosiasi dengan pedagangnya mengenai harga, pengalaman saya, dengan modal Rp 20.000,00 saja, bisa membawa pulang se-kresek besar buku bacaan. Bagaimana, sangat direkomendasikan, bukan?
Beberapa buku berharga miring, yang saya beli di Gladag, silahkan berkunjung ke sana, kalau ngga percaya :)

    Tidak dipungkiri, banyak tokoh besar yang berasal dari Kota Solo, saya sebut saja, dua atlet bulutangkis profesional, Bambang Suprianto dan Icuk Sugiarto, pelawak ngetop Basuki, ketua BPUPKI Radjiman Wedyodiningrat, Gubernur Jakarta Joko Widodo, pahlawan nasional seperti Soepomo dan Slamet Riyadhi, dsb. Kesan menakjubkan selanjutnya, datang dari hati dan mata saya saat menyaksikan peresmian Patung Slamet Riyadhi di Bundaran Gladag. Saya ingat waktu itu Senin, sehabis Upacara Bendera, wali kelas 5, mengajak kami untuk mengikuti peresmian itu. Wow, banyak sekali siswa-siswi, bahkan masyarakat yang ingin melihat patung Sang Brigardir Jendral secara langsung. Banyak pertunjukan yang menghibur di sana, salah satu yang membuat saya berdecak kagum adalah drama kolosalnya (melibatkan banyak seniman di dalamnya), yang menampilkan bagaimana alur hidup Brigjen yang memimpin Serangan Umum 4 hari di Solo, kembali dihidupkan di tengah dunia modern saat itu, benar-benar seperti nyata, seperti asap, desingan peluru, juga mobil jeep Belanda. TOP, buat sutradaranya! Beberapa waktu kemudian, kakek saya membeli sesuatu, yang ternyata 2 keping DVD drama kolosal, satu Jenderal Soedirman, dan satunya lagi Brigjen Ignatius Slamet Riyadhi, sungguh saya tak kuat menahan tangis di depan layar komputer ketika kembali menonton perjuangan beliau.
Patung yang dibangun dengan misi membangun semangat generasi muda, khususnya di Surakarta

    Selanjutnya, adalah cerita saya saat menginjak bangku SMP, khususnya saat kelas 9. Ada apa saat itu? SMP Negeri 4 Surakarta merupakan salah satu sekolah yang ditunjuk oleh Dikpora sebagai percontohan pemakaian kebaya dan beskap, lalu sekolah memberikan surat edaran tentang warna dan modelnya, dan Kamis depan harus sudah mengenakannya. Banyak sih, kebaya berwarna-warni di rumah, namun saya tidak menjumpai yang warna putih. Jadi, harus minjem sama saudara. Mula-mula, banyak orang yang memandang aneh saat berangkat sekolah naik motor (ah, abaikan, pikirku). Saya yang orangnya agak petakilan, mulai dibatasi geraknya oleh jarik (walaupun dengan risleting). Di hari Kamis yang lain, tidak ada yang menjemput saya, jadilah memutuskan pulang dengan angkot 04. Teman saya, ada yang bertanya dengan tampang khawatir, “Moso’, meh nganggo koyo ngene mulihe, cah?”, saya sih biasa saja, jangan dipikirin lah..., di angkot beberapa penumpang memandang aneh pada penampilan kita, untung saja kami memanggul tas segede gerobak, jadi nggak dikirain habis kondangan deh. Seiring berjalannya waktu, saya pun ikut terbiasa dan dapat mengatur cara berjalan lebih baik serta efektif dengan jarik :D .



Itulah beberapa kisah yang berkesan saat saya di Kota Solo, seperti yang saya bilang di awal, banyak rasanya, berbagai bumbu telah ditaburkan dalam hidup saya. Kota yang masih melekat dengan budayanya, tak hanya itu, sejumlah prestasi yang dilakukan dengan kerja keras telah diukir, walaupun di tengah terjangan ombak globalisasi, untuk menunjukkan eksistensinya di mata dunia. Butuh berlembar-lembar untuk menuliskan pengalaman berkesan di sana, juga lebih lagi, untuk melukiskan tiap senyum bangga menjadi warga Solo.





0 comments:

Posting Komentar